loading...
04 Okt 2018 
IOX Larantuka Adventure Rallye. Memburu Eksotika Indonesia Timur (Part 2)
Day 3
Hari ketiga, rombongan stay di desa Belawan yang terletak di kaki Kawah Ijen. Kegiatan dini hari, pengunjung dapat menyaksikan blue fire secara langsung, yaitu kejadian alam yang ditimbulkan oleh belerang yang berakibat mengeluarkan api berwarna biru. Dari situ ada sebagian rombongan naik menuju Kawah Ijen untuk menikmati blue fire. Untuk naik ke Kawah Ijen, sebagian ada yang  menggunakan jasa troley dengan mengeluarkan uang jasa sebesar Rp 700rb per orang, ada pula yang berjalan kaki.

Setelah menikmati blue fire, rombongan sarapan di desa Sempol dan bergerak menuju guest house Djampit,  yaitu rumah Belanda yang dibangun pada tahun 1927. Bngunan ini merupakan salah satu cagar budaya peninggalan Belanda yang mesih tersisa.

Setelah menikmati kopi rumah Belanda, kami menjelejahi daerah sekitar Kawah Wurung. Namun tidak disangka terjadi insiden pada salah satu anggota tim kami, Om Coki. Beliau terjatuh di jalan off-road dan mengalami dislokasi pada tulang bahu, sehingga harus ada penanganan khusus dan beliau terpaksa tidak bisa melanjutkan perjalanan. Beliau langsung pulang ke Jakarta. Sementara itu rombongan yang lain melanjutkan perjalanan.

Sebelum menyeberang ke Bali, rombongan Larantuka Adventure Rallye mendapat sambutan jamuan  khusus dari teman-teman adventure Banyuwangi. Kami diminta untuk singgah di salah satu tempat yang tidak semua orang bisa masuk. Tepatnya di Desa Kemiren, nama tempatnya adalah GEJAH ARUM milik Bp. Iwan Subekti. Ketika memasuki tempat tersebut rombongan disambut dengan tarian Gandrung Banyuwangi dan alunan musik lesung. Kami dijamu dengan hidangan sangat luar biasa. Banyak sekali makanan tradisional yang disuguhkan.

Setelah beberapa jam di sini, kami melanjutkan perjalanan menuju Bali. Ketika sampai di Ketapang,  tim kami ada penambahan personil untuk bergabung ikut dalam perjalanan ini, yaitu Om Egy dan Om Ryan.

Sementara memasuki penyeberangan sudah malam akhirnya team terbagi menjadi dua. Ada yang menginap di daerah Gilimanuk dan sebagian lagi langsung menuju ke Tuyabungka di daerah Kintamani karena sudah ditunggu salah satu teman yang juga akan bergabung mengikuti perjalanan LARANTUKA ADVENTURE RALLYE. Kami tiba di Kintamani pukul 00.45 dinihari, waktu Indonesia tengah.

Day 4
Di hari keempat, separuh dari rombongan berangkat dari Tuyabungka Kintamani. Rombongan yang berangkat dari Kintamani ditemani oleh sahabat dari Bali yang bernama Kadek Ramayadi dan Dharmawan Kusno Handoyo. Kami diajak memasuki jalur Black Larva yang memiliki panjang kurang lebih 1 jam, dan berlanjut mengunjungi desa terbersih di dunia, yaitu di Desa Penglipuran, Kabupaten Bangli.
Memang luar biasa sekali desa tersebut. Amazing. Setiap rumah sama sekali tidak tampak sampah yang berceceran. Kami di desa wisata penglipuran menikmati minuman khas cem cem lolo. Tak lupa ngopi bareng juga di sana.
Setelah satu jam di desa Penglipuran, kami bergerak menuju arah Padang Bai. Di tengah perjalanan, kami bertemu rombongan. Bertambah satu lagi rombongan Pak Ade dkk.
Sebelum memasuki Padang Bai, bli Dharma mengajak rombongan berwisata kuliner di Warung Mertasari, daerah Goa Lawa. Kami dijamu dengan menikmati  sate lilit ikan.
Makan siang usai, kami berpisah dengan bli Kadek dan bli Dharma di tempat itu. Kami semua bergerak menuju Padang Bai untuk melanjutkan perjalanan ke Pulau Lombok.

Untuk menuju ke Lombok, kami menempuh penyeberangan selama 6 jam dari Padang Bai menuju Lembar.
Sampai di lombok rombongan disambut oleh om Bery dan eliau rupanya sudah menyiapkan nasi bungkus ayam taliwang. Sungguh istimewa. Kami makan bersama, setelah itu rombongan mengikuti bakti sosial saweran dan memberikan donasi kepada korban bencana gempa Lombok.
Setelah bakti sosial, rombongan melanjutkan perjalanan dan akhirnya finish di Pantai Mawun, Lombok Selatan, tepat pukul 00.30 WITA. Kami memutuskan stay di pantai Mawun.

Day 5
Di hari kelima ini, perjalanan tidak terlalu panjang. Rombongan start dari Mawun beach menuju penyeberangan di Dermaga Kayangan dengan jarak 90 km, dengan durasi kurang lebih 2 jam, kami mengambil jalur selatan.
Sebelum menyebrang dari Kayangan ke Pototano Sumbawa, rombongan regrouping dan makan siang bersama terlebih dahulu. Baru setelah makan siang rombongan
melanjutkan penyeberangan ke Sumbawa. Perjalanan ditempuh kurang lebih 2,5 jam.

Memasuki Pulau Sumbawa sudah senja, rombongan singgah di salah satu teman Mas Sovan di Alas (nama kecamatan). Rombongan Larantuka Adventure Rallye istirahat bersama melepaskan lelah, numpang mandi, sholat dll sampai waktu menunjukkan pukul 21.30 WITA. Semua rombongan bergerak menuju desa budaya Mantar. Dalam perjalanan menuju Mantar, ada sedikit kendala karena medan yang begitu berat. Jalan yang kami lalui berkarakter batu lepas, sehingga tak jarang sebagian rider sampai terpeleset, bahkan ada yang terjatuh dari motor. Ada pula yang kanvas koplingnya loss, sehingga harus dilakukan perbaikan. Perjalanan hari kelima kami cukup sampai di sini. Kami berada di puncak desa Mantar pukul 23.30 WITA, dan membangun flying camp di Mantar.

bersambung